Bahasa Ibu
Senang rasanya mendengar mahasiswi-mahasiswi STAIS Sidikalang berbicara menggunakan bahasa Pakpak. Terdengar wajar. Tidak seperti di warung-warung, banyak laki-laki kalau ngomong pakai bahasa Pakpak sengaja dengan suara keras, seolah ingin menunjukkan ke orang-orang di radius 7 meter bahwa ia sedang berbahasa Pakpak.
Suatu ketika aku naik Sampri ke Medan. Dua orang penumpang pria yang duduk sebangku di dalam mobil itu terlibat percakapan. Yang satu menyapa lainnya dengan bahasa Batak, lalu dijawab dengan bahasa yang sama. Namun beberapa lama kemudian setelah saling bertanya marga, keduanya tiba-tiba berganti bahasa jadi bahasa Pakpak, sebab mereka berdua ternyata etnis Pakpak.
Jadi teringat kata mantan Bupati MP Tumanggor, sekitar 4 tahun lalu, bahwa banyak orang etnis ini yang malu berbahasa ibunya.

Komentar
Posting Komentar