Umat Kristiani, Pendeta dan Kepala Desa Demo ke DPRD
Limaratus Umat Kristiani bersama
Pendeta dan Kepala Desa Datangi DPRD Dairi
·
Dairi
Lingga : Semua Pihak Harus Berpikiran Jernih dan Berhati Dingin
PENJELASAN : Ketua DPRD Dairi Delphi Masdiana Ujung (2 kiri)
memberi penjelasan pada massa saat unjuk rasa lima ratus umat Kristiani bersama
pendeta dan kepala desa ke DPRD Dairi, Jumat (21/12).
Sidikalang (SIB)
Sekira
limaratus umat Kristiani, para pendeta dan para kepala desa di Dairi mendatangi
Kantor DPRD Dairi di Jalan Sisingamangaraja Sidikalang, Jumat (21/12),
menyampaikan aspirasi seputar anggaran untuk kerohanian dan kepala desa dalam
APBD Dairi Tahun Anggaran 2013. RAPBD TA
2013 sendiri telah ditolak DPRD dalam rapat paripurna dewan, Selasa lalu.
Massa
yang berjalan kaki dari titik kumpul di Gereja HKBP Jalan Gereja Sidikalang, tiba
di Jalan Sisingamangaraja depan kantor DPRD sekitar pukul 10.30 WIB, membawa
sejumlah spanduk dan poster.
Pada
Jumat pagi kemarin DPRD seyogianya menggelar rapat paripurna Ranperda RTRW,
dihadiri pejabat Pemkab dan Muspida.
Pintu
gerbang kantor dewan telah ditutup dan dijaga polisi saat massa tiba. Praktis, massa berkerumun di badan jalan,
sedangkan arus lalu lintas di kawasan itu dialihkan. Tak lama berselang
sejumlah aktivis dari organisasi perempuan Pakpak ikut bergabung. Massa mendesak agar bisa masuk ke halaman
Kantor DPRD, namun pasukan polisi dipimpin langsung Kapolres AKBP Enggar
Pareanom tidak mengizinkan. Massa sempat
berteriak-teriak kecewa. Pimpinan aksi
kemudian melakukan orasi.
ASPIRASI : Juru bicara massa
menyampaikan aspirasi dan tuntutan saat unjuk rasa lima ratus umat Kristiani
bersama pendeta dan kepala desa ke DPRD Dairi, Jumat (21/12).
Di
tengah situasi riuh, sejumlah aktivis dari Himpunan Mahasiswa Pakpak Indonesia dipimpin
Fitrianto Berampu datang ke lokasi dan selanjutnya berorasi dengan topik yang
berbeda, yakni mendesak agar temuan-temuan BPK RI di Kabupaten Dairi diusut. Namun aksi mereka tidak berlangsung lama.
Ketua
DPRD Delphi Masdiana Ujung didampingi sejumlah anggota dewan termasuk Dahlan
Sianturi, Sondher Sembiring, Pisser Simamora, Dapotan Silalahi, Agus Ujung,
Residen Damanik, kemudian keluar dari kantor dewan dan selanjutnya dilakukan
dialog. Wakil Bupati Irwansyah Pasi,
Sekdakab Julius Gurning, Kapolres, Dandim 0206/D Letkol Inf Benny Satria, Ketua
PN Herry Suryawan, Kajari diwakili Kasi Pidum S Simbolon juga ikut mendampingi
wakil rakyat. Berbatas pagar kantor
dewan yang juga ditumbuhi bermacam bunga, massa dan wakil rakyat melakukan
dialog.
Ketua
Umum Badan Musyawarah Antar Gereja Dairi Pdt B Sihotang STh, Sekretaris BMAG
Pdt A Lumban Tobing STh (juga Praeses HKI Dakota), Pdt H Harianja MMin
(Sekretaris HKI Dakota) serta seorang perwakilan kepala desa kemudian
menyampaikan aspirasi dan tuntutan. Mereka
mempertanyakan soal anggaran untuk wisata rohani ke Yerusalem dan umroh ke
Mekkah dicoret DPRD, juga soal informasi dana untuk pengadaan sepeda motor bagi
kepala desa dicoret dewan. Mereka juga
mempertanyakan alasan penolakan RAPBD TA 2013.
Ketua
DPRD mengatakan dewan mencoret dana ke Yerusalem karena tidak sesuai dengan
prinsip bansos. Soal sepeda motor kepala desa, tidak ada dicoret karena memang
dalam draf usulan dari Pemkab juga tidak ada.
Walau menyisakan ketidakpuasan massa, pertemuan diakhiri dengan doa
bersama.
Sementara
itu, saat terjadi dialog, sempat pula terjadi “insiden” di dekat pintu masuk
DPRD Dairi. N br Cibro dari Perpi terlihat
“marah-marah” kepada Ketua DPRD Ir Benpa Hisar Nababan dan menyerang Ketua DPC
PDIP Dairi itu. Tiga anggota Polisi
Wanita dari Polres kemudian “menggiring” br Cibro keluar dari kantor
dewan. Menurut Benpa, dia tidak tahu
mengapa diserang. “Saya dibilang membuat
kacau, lalu dipukul, tapi bagaimanalah, dia seorang ibu-ibu, tak mungkin kita
melawan.”
Secara
terpisah, Dairi Lingga, seorang tokoh pemuda Dairi, kepada SIB mengatakan, seluruh
elemen masyarakat terutama LSM dan tokoh agama, demikian juga Pemkab dan DPRD
Dairi mesti “berpikiran dingin” dan berhati jernih serta tidak memaksakan
kehendak. Situasi sekarang sudah mulai
panas, katanya. Pemicunya ialah permasalahan
politik anggaran di DPRD yakni DPRD menolak menetapkan RAPBD TA 2013. Hubungan DPRD dengan Pemkab juga menjadi
tidak harmonis. “Lalu masyarakat dan
tokoh agama juga jadi ikut terpancing dan terbawa dalam permasalahan politik,
ini akan membuat kacau karena jadi banyak kepentingan terutama menjelang
Pilkada Dairi.”
Ia
juga meminta Kapolres Dairi bersikap tegas sekaligus bijak. “Kalau ada kelompok masyarakat meminta ijin
untuk audiensi, ya sebenarnya tidak boleh dong jadinya unjuk rasa. Apalagi ketika Natal Polres kemarin Kapolres
mengatakan selama bulan Natal ini tidak boleh ada aksi di Dairi. Semua ada aturan main. Kalau kita main-main dengan aturan main, kita
sendiri yang akan merasakan akibatnya.” (B4)
Dimuat di Harian Sinar Indonesia Baru (SIB), SIB, Sabtu, 22 Januari 2012, halaman 6.
Komentar
Posting Komentar