Pdt SAE Nababan di Sidikalang

 
Pdt SAE Nababan di Sidikalang :
Kalau Manusia Tak Peduli Lingkungan, Korban Pertama Ialah Manusia Sendiri

Sidikalang (SIB)
            Kalau manusia tidak peduli pada lingkungan, maka korban pertama akibat kerusakan lingkungan ialah manusia itu sendiri.
            Hal itu dikatakan Presiden World Council of Churches atau Dewan Gereja-gereja Dunia Pdt Dr Soritua AE Nababan LID, kemarin,  dalam acara bertajuk syukuran Tahun Baru 2013 sekaligus perayaan ulang tahun Pdt Sumurung Samosir di Sidikalang.  Acara turut dihadiri Pdt Sumurung bersama keluarga, Ketua DPRD Delphi Ujung bersama keluarga termasuk orang tuanya yang juga tokoh masyarakat Hasan Ujung, Wakil Ketua DPRD Benpa Nababan, Pdt N Nababan STh, Pdt Mirna, Ketua KPU Dairi, Ketua Panwaslu Dairi, sejumlah aktivis GMKI dan GAMKI, beberapa anggota DPRD Dairi dan undangan lainnya.
            “Banjir di Jakarta sekarang ini menunjukkan itu, bahwa ketika kita tidak peduli kepada lingkungan maka korban pertama ialah manusia itu sendiri,” ujarnya.
            Melalui media, lanjut  mantan Ephorus HKBP itu, ia membaca berita DPRD Dairi sedang mengkritisi adanya perusakan hutan di Dairi.  Ia mengapresiasi hal itu.  Sebab kalau hutan di Dairi dapat diselamatkan maka itu berarti dunia juga diselamatkan.
            Lebih lanjut Pdt SAE Nababan menyebutkan, ada tiga hal yang menjadi fokus pembahasan dunia saat ini yakni iklim (lingkungan), ekonomi dan fundamentalisme (terorisme).
             Soal ekonomi, hingga saat ini masih terjadi kesenjangan yang lebar atau ketimpangan ekonomi.  Ia mencontohkan seorang bintang sepakbola seperti Christian Ronaldo di Madrid (Spanyol) bisa menerima gaji miliaran rupiah per minggu, padahal di sisi lain negeri tersebut tengah dilanda krisis ekonomi yang menyebabkan banyaknya pengangguran. Demikian juga di Liverpool atau Manchester (Inggris). 
            Harga kopi dunia ditentukan di London dan harga tembakau dunia ditentukan di Hamburg, itu menunjukkan kesenjangan ekonomi.  “Kapitalisme dengan Neolib adalah puncak kerakusan manusia,” katanya.
            Soal fundamentalisme, menurutnya terdapat dua hal penyebabnya yakni fanatisme dan kesenjangan ekonomi.  Kedua hal tersebut bisa menyebabkan ketegangan antarumat beragama.  Namun ia menambahkan, fundamentalisme tidak hanya ada di agama-agama lain, namun juga di kalangan Kristen sendiri.  “Iman harus bertumbuh, kalau tidak kita akan jadi korban,” tandasnya.  Acara yang dirangkai dengan kebaktian singkat itu juga diisi dengan diskusi.  (B4)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BPP Mamre GBKP Puji Pengurus Klasis Riau-Sumbar yang Teratur Gelar RPL

Rumah Tradisional Karo “Siwaluh Jabu’ di Desa Lingga Kini Sepi Pengunjung