R. SITOMPOL, SH



Banyak orang bilang rakyat Indonesia tidaklah bodoh.  Mereka bilang masyarakat Indonesia sudah semakin pintar.  Tapi menurutku, jika memang rakyat pintar, mengapa Susilo Bambang Yudhoyono yang kepemimpinannya begitu mengecewakan, bisa terpilih sebagai Presiden dua periode? Mengapa bupati/walikota dan anggota DPR yang tak jelas bisa terpilih? Bukankah itu pertanda bahwa rakyat masih bodoh, dengan demikian bisa dibodoh-bodohi?
            Tahapan Pemilu 2014  sudah dimulai.  Waktu setahun menjelang Pemilu terbilang sudah begitu dekat untuk ukuran politisi. Maka tak heran saat ini mereka yang ingin duduk (lagi) di legislatif mulai kembali dekat-dekat dengan rakyat. Rajin-rajin turun ke bawah. Bawa orang media untuk publikasi. Mengambil hati rakyat. Sok dekat dengan, sok peduli pada rakyat. 
Rakyat seharusnya sudah tahu betapa itu semua hanya trik mereka untuk meraih dukungan pada Pemilu nanti. Begitu duduk sebagai wakil rakyat, seperti biasa, terlupakanlah nasib dan keluhan rakyat.
            Maka, jika nanti orang-orang seperti Ruhut Sitompul, Sutan Bhatoegana, Edy Ramly Sitanggang (Partai Demokrat), Nurdin Tampubolon (Partai Hanura) atau beberapa nama lainnya, terpilih kembali, sungguh, itu berarti argumen bahwa masyarakat Indonesia sudah semakin pintar, menurutku sama sekali tidak benar.
            Pada Pemilu 2009 lalu, Ruhut Sitompul maju dari daerah pemilihan Sumatera Utara III. Setelah terpilih, beliau (?) sangat jarang turun ke daerah pemilihannya atau menemui konstituen.  Beliau (? Huh!) bak selebriti, koar-koar bikin sakit kepala di tivi. Kini dia pindah daerah pemilihan, maju dari daerah pemilihan Sumut I. Bahkan namanya di daftar bakal caleg di situs KPU juga sudah ‘berganti’ : R. SITOMPOL, SH. (Kenapa tidak dipanjangkan saja?) Duh!
            Lalu, masih di daftar caleg daerah pemilihan Sumut I, di nomor urut 10 ada M Subur Sembiring. Beberapa waktu lalu beliau ini pernah ditangkap petugas karena mencoba memeras Bupati Tobasa dengan modus mengaku-aku dari KPK.
            Bhatugana, Nurdin dan lainnya itu setali tiga uang. Entah apa kerja mereka selama lima tahun ini. Entah apa yang sudah mereka perbuat untuk rakyat selama duduk sebagai anggota dewan terhormat. Masing-masing kita mungkin punya pandangan tersendiri.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

BPP Mamre GBKP Puji Pengurus Klasis Riau-Sumbar yang Teratur Gelar RPL

Rumah Tradisional Karo “Siwaluh Jabu’ di Desa Lingga Kini Sepi Pengunjung