Bukan Mimpi Menjadikan Silalahi Sebagai Wisata Andalan Dairi








Laporan : Herry Suranta Surbakti
Wartawan SIB







    “Sepanjang masa liburan dari semalam (maksudnya kemarin) sampai hari ini, berapa banyak rupanya kalian lihat orang yang datang berlibur ke sini? Sedangkan pas musim libur panjang saja pun orang yang datang ke sini cuma sedikit.”

    Komentar Jame Silalahi (45), seorang warga Desa Silalahi, itu barangkali terasa menusuk, namun sebenarnya realistis.  Obyek wisata pantai Silalahi yang terletak persis di pinggiran Danau Toba di Kecamatan Silahisabungan Kabupaten Dairi itu sebenarnya menyimpan pesona yang akan membuat pengunjungnya berdecak kagum, tapi nyatanya Silalahi tetap saja belum bisa terjual dan maju sebagai obyek wisata, yang terbukti dengan masih sedikitnya wisatawan yang datang ke sana. Ada apa?

    Dalam bahasa sejumlah warga setempat yang diwawancarai wartawan, akhir Nopember kemarin di Silalahi, salah satu penyebab obyek wisata Silalahi belum bisa menjadi obyek wisata andalan adalah karena belum optimalnya upaya pemerintah, dalam hal ini Pemkab Dairi dalam pengembangan Silalahi itu sendiri.

    Banyak orang bilang Silalahi ini merupakan mutiara terpendam dalam pariwisata di Kabupaten Dairi dengan beragam pesona dan kelebihannya, tapi apa yang sudah dilakukan Pemkab Dairi untuk mengasah mutiara terpendam ini? kata Dapotan Silalahi, anggota DPRD Dairi dari Fraksi-Partai Demokrat yang juga putera Silalahi.  Malah bisa pula diajukan pertanyaan yang lebih tegas : seriuskah Pemkab menjadikan Silalahi sebagai wisata utama sekaligus andalan di Dairi? Ataukah program menjadikan Silalahi sebagai wisata andalan sekedar basa-basi saja?

Dapotan Silalahi mengatakan tidak dapat menyalahkan banyaknya pesimisme warga atas kondisi Silalahi sebagai obyek wisata.

    “Dari dulu sekitar tahun 1970-an sampai sekarang, dari belum adanya Kecamatan Silahisabungan sampai munculnya keinginan menjadikan Silalahi sebagai obyek wisata andalan, bisa dibilang Silalahi ini begini-begini saja.  Padahal dalam berbagai kesempatan orang Dairi bilang Silalahi merupakan kebanggaan masyarakat Kabupaten Dairi, tapi nyatanya bagaimana? Pariwisata Silalahi ini belum beranjak dari tahun ke tahun,” katanya.

    Hal tersebut dapat dilihat secara jelas saat berkunjung ke Silalahi.  Katanya pantai di Silalahi dengan pasir putihnya merupakan salah satu andalan tapi nyatanya bisa dilihat bagaimana kondisi pantai itu kini? Ada dilakukan proyek reklamasi pantai oleh Pemerintah Provinsi Sumut, tapi dalam banyak hal malah mendapat respon yang kurang bagus dari masyarakat setempat karena melalui proyek itu malah dibuat beronjong di pinggir pantai dengan maksudnya mungkin untuk menghindari terjadinya abrasi, tapi sebenarnya itu membuat pemandangan jadi tidak elok karena tidak jelas dimana seharusnya dibuat posisi beronjong itu, papar Dapotan.

    Tak heran bila pengunjung yang datang ke Silalahi terbilang sedikit, karena memang sarana dan prasarana di sana masih sangat minim.



PESONA LUAR BIASA
    Kita tinggalkan dulu nada pesimisme dari masyarakat.  Jika datang dari arah Medan, untuk mencapai Silalahi paling tidak ada dua jalur atau rute.  Pertama dari Simpang Lae Pondom di Jalan Sidikalang-Medan (artinya jika dari Medan, setiba di Simpang Merek Kabupaten Karo kita belok kanan dan terus ke arah Sidikalang), sedangkan jalur kedua dari Desa Tongging (Kabupaten Karo) terus ke Silalahi melalui Paropo. Tapi maaf saja, kedua jalur ini masih dihiasi dengan buruknya sarana jalan, terutama dari Merek (Tanah Karo) itu.  Sedangkan jika melalui Tongging, jalan dari Merek hingga Tongging terbilang bagus tapi setelahnya jalan kembali rusak dan sempit hingga mendekati ke Silalahi.

    Meski harus melalui jalan yang terbilang rusak, pengunjung barangkali akan bisa melupakannya dengan melihat suguhan pemandangan sepanjang perjalanan menuju Silalahi.  Mantan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Lukman Edy pada akhir September 2007 lalu sempat dibawa bupati Dairi (ketika itu DR MP Tumanggor) berkunjung ke Silalahi melalui rute Tongging.  Ditanya pendapatnya tentang panorama Danau Toba dari Silalahi, sang menteri mengatakan, “Luar biasa! Banyak teman saya di Jakarta orang Silalahi, mereka bilang Silalahi itu indah, Silalahi itu mempesona. Saya baru lihat sekarang,” katanya.

    Lukman Edy pastilah tidak sedang berbasa basi.  Hampir setiap pengunjung ke Silalahi akan mengatakan hal serupa.  Pemandangan alam yang indah mempesona bahkan sudah dapat dinikmati saat masih dalam perjalanan.  Dari jalan yang menurun dan agak berkelok (jika kita datang dari Simpang Lae Pondom), Danau Toba di bawah sana terlihat seperti kuali besar.  Dia diapit perbukitan.  Namun harap dicatat bahwa sejumlah bukit di Silalahi memang terlihat tandus bahkan ada yang tanpa pohon sama sekali, hanya rerumputan dan ilalang semata sehingga seperti lapangan golf saja.

    Setiba di pantai Silalahi, pengunjung bisa berenang di Tao Silalahi yang merupakan bagian dari Danau Toba itu. Air begitu jernih.  Terhampar pula pasir putih di pantai.  Biasanya pada sekitar akhir Nopember Silalahi ramai karena dilangsungkan Pesta Tugu marga Silalahi.  Ribuan orang keturunan marga Silahisabungan termasuk dari Jakarta, Surabaya, Pekanbaru dan kota-kota besar lainnya di Indonesia datang berkumpul di lokasi Tugu Silahisabungan yang terletak persis di pinggiran Danau Toba di Desa Silalahi III.

    Penginapan di Silalahi terbilang sedikit, hanya satu.  Tapi dengan jumlah pengunjung yang terbilang tidak banyak, penginapan tersebut sudah cukup untuk melayani pengunjung yang datang menginap di sana.

Mantan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dairi Drs Pardamean Silalahi pernah mengatakan sebenarnya pihak Pemkab menaruh perhatian serius dalam upaya pengembangan wisata Silalahi.  Bahkan ada konsep wisata kembar yakni Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo dan Silalahi.  Konsepnya, pengunjung TWI yang jumlahnya mencapai ribuan orang setiap bulan, diharapkan tidak langsung pulang ke Medan tetapi singgah dulu ke Silalahi.  Dengan demikian perjalan wisata terasa lengkap karena setelah menikmati wisata rohani dengan melihat rumah-rumah ibadah serta replika ‘situs-situs’ keagamaan lainnya di TWI, pengunjung bisa menikmati wisata alam berupa pantai di Silalahi.  Namun tampaknya, sejauh ini program itu belum berjalan seperti diharapkan akibat sejumlah hal, entah karena pihak Pemkab kurang serius ‘menjual’ konsep itu atau karena hal lain.

Selain itu pada tahun anggaran 2008 lalu Pemkab Dairi mengalokasikan dana Rp 400 juta dari APBD Kabupaten Dairi untuk pengadaan kapal wisata di Silalahi dengan tujuan pengembangan wisata pantai.  Kapal wisata itu rencananya dikelola pihak Dinas Pariwisata Dairi dengan melayani rute Paropo, Tongging, Parapat, Samosir atau rute lain sebagaimana permintaan wisatawan.  Namun kini tidak jelas bagaimana nasib atau keberadaan kapal wisata itu karena menurut informasi kapal tersebut hingga kini belum kelihatan wujudnya.

Mantan Kadis Pariwisata mengakui banyaknya potensi wisata di Silalahi yang belum tergarap.  Silalahi bukan sekedar wisata pantai, tapi menyimpan banyak pesona lain seperti kekayaan budaya yang menarik banyak wisatawan luar negeri, hingga ikan mas dan mujahirnya yang dikenal enak apalagi dipanggang di pinggir pantai.

Sementara itu Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dairi E Sigalingging SE kemarin kepada wartawan mengakui pada tahun anggaran 2010 ini terbilang tidak ada proyek fisik untuk pengembangan pariwisata di Silalahi.  “Kita tidak bisa berbuat banyak.  Bukan cuma di Silalahi tidak ada proyek fisik upaya pengembangan, karena memang SKPD kita tidak ada mendapat proyek fisik yang cukup,” ujarnya.

Sangat disayangkan memang bila Silalahi yang menyimpan begitu banyak pesona dan potensi wisata itu belum ditata, diberdayakan dan dikembangkan secara optimal.  Mudah-mudahan pula keinginan menjadikan Silalahi sebagai wisata andalan di Dairi (bersama TWI) bukanlah mimpi semata …

Dimuat di Harian SIB, Desember 2009.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

BPP Mamre GBKP Puji Pengurus Klasis Riau-Sumbar yang Teratur Gelar RPL

Rumah Tradisional Karo “Siwaluh Jabu’ di Desa Lingga Kini Sepi Pengunjung