Longsor dan Banjir Bandang di Siempat Nempu Hilir Dairi, Satu Tewas Puluhan Hektar Lahan Porak Poranda



·         Siempat Nempu Hilir Masih Rawan Longsor Susulan




Sidikalang (SIB)
                Peristiwa longsor dan banjir bandang terjadi di Desa Lae Luhung dan Desa Pardomuan Kecamatan Siempat Nempu Hilir, sebuah desa terpencil di Kabupaten Dairi dan sudah dekat dengan kawasan hutan perbatasan Aceh, Senin (9/9) sore.  Akibat kejadian itu, Romin br Hutagaol (60), warga  Dusun Lae Meriah Desa Lae Luhung tewas sedangkan beberapa orang lainnya warga dusun yang sama mengalami luka.  Selain itu empat rumah hancur diterjang banjir bandang dan puluhan hektar sawah, ladang, kebun  dan lahan milik masyarakat desa porak poranda.
                Jalur menuju Pardomuan sendiri, hingga Selasa (10/9) siang, saat wartawan meninjau lokasi tersebut, terlihat masih rawan.  Terdapat banyak titik longsor di sepanjang jalan kabupaten tersebut. Aliran listrik di sebagian kawasan tersebut hingga kemarin siang juga masih padam.
Menurut Kosmika Simbolon, Pornider Limbong dan Rosdia Bako, semuanya warga Desa Lae Luhung yang ditemui wartawan Selasa siang di Gereja Katolik Lae Luhung, tempat berkumpul warga sekaligus persemayaman korban br Hutagaol, peristiwa longsor dan banjir bandang terjadi pada Senin sore sekitar pukul 17.00 WIB.  Saat kejadian hujan deras sedang mengguyur kawasan yang kontur tanahnya berbukit-bukit tersebut.


 “Dari jam empat sore hujan deras terus, tidak berhenti-berhenti sampai sekitar jam enam, butiran hujannya hampir sebesar biji jagung,” jelas warga.
Akibat hujan deras tersebut, kawasan hutan yang berada di atas kawasan permukiman penduduk mengalami longsor.  Balok kayu, pohon dan bebatuan dalam berbagai ukuran meluncur deras bersama air dari arah hutan dan menghantam rumah warga serta lahan lainnya.
Korban br Hutagaol bersama suaminya, Rajuman Simare-mare dan cucu mereka, Desy br Tamba (10) hendak keluar rumah menyelamatkan diri namun naas ibu rumah tangga tersebut terjebak dan tertimbun longsoran.  Suami dan cucu korban sendiri juga mengalami luka, demikian juga tetangga mereka.
“Sekitar jam 8 malam baru dia (korban br Hutagaol) ditemukan dari timbunan longsor,” ujar Kosmin.  Selain rumah Simare-mare, tiga rumah lainnya yang rusak dihantam banjir ialah milik Pa Karina Bako, Pa Riko Barasa dan Ompung Muhrim Bako.
Sejumlah warga lain terlihat sedih melihat sawah dan kebun milik mereka porak poranda.  Mereka tak kuasa menahan tangis karena dipastikan panen akan gagal.  Sawah berisi tanaman padi atau kebun kopi mereka telah dipenuhi kayu dan air kiriman. 
Warga menduga peristiwa bencana itu dipicu maraknya aksi ilegal logging di kawasan hutan tersebut.   
Sementara itu bantuan dari Pemkab Dairi juga terlihat minim sekali.  Meski sejumlah pejabat kecamatan bersama aparat TNI dan Polri sudah turun ke lokasi, namun bantuan medis maupun makanan bagi warga terlihat masih jauh dari sewajarnya.  Padahal warga masih harus waspada dan tidak bisa kembali ke dusunnya karena jembatan menuju Dusun Lae Luhung juga belum bisa dilintasi.  Banyak warga yang terpaksa mengungsi atau menginap di rumah keluarganya.
Dandim 0206/D melalui Pasi Intel Kapten Inf M Simarmata mengatakan anggota TNI masih bekerja di lapangan dan masih melakukan pendataan jumlah korban.  (B4)

Dimuat di Harian SIB.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BPP Mamre GBKP Puji Pengurus Klasis Riau-Sumbar yang Teratur Gelar RPL

Rumah Tradisional Karo “Siwaluh Jabu’ di Desa Lingga Kini Sepi Pengunjung