Program “Bekerja untuk Rakyat” dan Tantangan Kabupaten Dairi
Laporan : Herry Suranta Surbakti
Wartawan SIB
Balai
Budaya Sidikalang, Kamis, 15 Oktober 2009.
Bupati Dairi Johnny Sitohang, yang ketika itu baru sekitar enam bulan
dilantik Gubernur Sumatera Utara (ketika itu) H Syamsul Arifin, tampil sebagai
pembicara dalam acara Seminar Tahun Diakonia HKBP Distrik VI Dairi Tahun
2009.
Dengan topik ‘Program kerja
Pemerintah Kabupaten Dairi’, Bupati pun berbicara banyak tentang
program-programnya, terutama pertanian, pendidikan dan kesehatan, tiga pilar
utama programnya. Di hadapan tigaratusan warga, ia berbicara tentang petani
Dairi yang tetap belum bisa maju akibat pasar yang tidak stabil dan
mengaitkannya dengan rencana pembentukan perusahaan daerah Kabupaten Dairi,
sebuah perusahan yang disebutkannya akan banyak berperan membantu petani karena
juga berfungsi menampung hasil pertanian, terutama produk unggulan seperti
jagung dan kopi, pada saat harga pasar di bawah harga standar yang
ditetapkan. Dengan begitu, potensi
kerugian yang dialami petani dapat diperkecil.
Untuk itu Johnny Sitohang mengatakan perusahaan daerah tersebut akan
beroperasi efektif mulai Januari 2010.
Namun
apa yang terjadi? Ternyata “janji” soal beroperasinya perusahaan daerah itu
jauh meleset dalam kenyataan. Pada Januari 2010, perusahaan daerah dimaksud (PD
Pasar) belum lahir, bahkan rekrutmen dan seleksi calon direksi baru dilakukan
Juni 2010. Demikianlah, tiga direksi PD
Pasar akhirnya dikukuhkan pada Rabu 7 Juli 2010. Meski demikian awal Oktober 2010 pun PD Pasar
belum beroperasi sepenuhnya karena masih harus melakukan rekrutmen personalia.
Kita
tidak tahu secara persis apa sebenarnya yang terjadi sehingga perusahan yang
direncanakan beroperasi Januari, ternyata awal Oktober pun belum
beroperasi. Tapi kita patut menduga ada
sesuatu yang salah di situ. Mantan
Bupati Dairi Dairi (1999-2009) DR Master Parulian Tumanggor dalam suatu
perbincangan dengan wartawan pernah mengeluhkan stafnya di Pemkab yang sering
mengecewakan dalam bekerja. Rencana dan konsep bagus, tapi kurang dalam
implementasi atau pelaksanaan. Apakah persoalan yang sama, kinerja staf yang
tidak seperti diharapkan, juga sedang dihadapi Bupati Dairi? Ataukah Johnny Sitohang, mengingat latar
belakangnya sebagai seorang politisi, bukan birokrat, dalam kadar tertentu
terlalu gampang memberikan “janji” dan harapan kepada masyarakat?
Betapapun, soal PD Pasar ini
hanyalah satu contoh betapa program untuk kepentingan rakyat sering tidak
berjalan sesuai rencana, di Dairi.
BEKERJA UNTUK RAKYAT
Tanggal
20 April 2009, Gubsu (ketika itu) Syamsul Arifin melantik Johnny Sitohang dan Irwansyah
Pasi SH sebagai Bupati dan Wakil Bupati Dairi periode 2009-2014. Sitohang yang
juga Ketua Partai Golkar Kabupaten Dairi, sebelumnya merupakan Wakil Bupati
Dairi 2004-2009, sementara Pasi sebelumnya menjabat Kepala Kantor Pemdes di
Pemkab. Banyak pihak berpendapat
pasangan pelangi ini ideal karena satu berlatar belakang politisi, satu lagi
birokrasi sehingga saling melengkapi.
Tak lama berselang, Bupati
menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Dairi tahun 2009-2014 yang berangkat dari
visi-misi Bupati dan Wakil Bupati Dairi “Bekerja untuk rakyat” dan ranperda
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Dairi tahun
2005-2025 di DPRD Dairi. Kedua Ranperda itu kemudian ditetapkan DPRD menjadi
Peraturan Daerah.
Pertanyaannya,
bagaimana menjabarkan konsep “Bekerja untuk rakyat” itu? Begitu mulai bekerja setelah dilantik, Bupati
secara agak jelas terlihat berusaha keras menyampaikan penajaman konsep
“Bekerja untuk rakyat itu” kepada seluruh jajarannya di Pemkab. Sebagaimana
dikatakan Johnny dalam perbincangan dengan wartawan, awal Mei 2009, dia telah
memaparkan penajaman visi misi dan konsep “Bekerja untuk rakyat” itu kepada
pimpinan SKPD dan unit kerja lainnya agar terdapat kesamaan pola pikir dan pola
tindak di segenap jajaran Pemkab.
Konsep “Bekerja untuk rakyat”
dalam prakteknya kemudian dijabarkan dengan kunjungan kerja ke desa-desa secara
rutin oleh seluruh pejabat Pemkab bersama staf.
Dibentuk tiga tim, masing-masing dipimpin Bupati, Wakil Bupati,
Sekretaris Daerah, dengan tujuan desa dan kecamatan berbeda namun pada saat
bersamaan. Ketiga tim tersebut biasanya berangkat Jumat pagi dan tiba kembali
di Sidikalang pada Sabtu malam.
Di
desa, tim kunker melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan lansung dengan
masyarakat, misalnya gotong royong membuka jalan (misalnya jalan yang
menghubungkan dua dusun), mendatangi ladang warga dan ikut melakukan kegiatan
bertani seperti menanam bibit atau memanen hasil tani dan kebun, membersihkan
desa, mengecat rumah ibadah, membagikan bibit pohon untuk ditanam bersama,
melakukan pemeriksaan kesehatan gratis terhadap masyarakat, pengurusan
KTP/kartu keluarga dan lainnya.
Biasanya pula, kunker juga
diramaikan dengan acara hiburan kibord yang dirangkaikan pertemuan dan tanya
jawab dengan masyarakat setempat. Para
pejabat Pemkab itu kemudian menumpang tidur di rumah-rumah warga. Hingga Mei lalu, sebagaimana disebutkan
Bupati baru-baru ini dalam sebuah kesempatan di Panji, sudah lebih 120 desa
yang dikunjungi tim kunker. Program
tersebut akan terus dilanjutkan hingga waktu yang belum ditentukan, bahkan
sejak Maret lalu kuantitas kegiatan kunker ditingkatkan menjadi setiap 2
minggu.
TANTANGAN
Sampai
di sini, wajar rasanya banyak pihak menyampaikan pujian pada Pemkab Dairi atas
programnya yang rajin turun ke desa-desa, meski di lain pihak ada juga yang
menyorotinya. Namun begitu, wajar juga
jika diajukan pertanyaan, sudah sejauh mana, secara terukur, tingkat
keberhasilan program “Bekerja untuk rakyat” yang diejawantahkan dalam bentuk
kunjungan ke desa-desa itu? Seberapa besar manfaat dan hasilnya yang dirasakan
masyarakat? Seberapa jauh desa-desa yang telah dikunjungi tersebut mengalami
kemajuan?
Jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dirasa perlu untuk mengetahui seberapa kuat
konsep “Bekerja untuk rakyat” mencapai sasarannya. Hal itu juga penting terkait
dengan adanya sinyalemen banyak pihak bahwa, maaf, pelaksanaan kunjungan kerja
ke desa-desa sebenarnya lebih “dilatarbelakangi” kepentingan ‘2014’ nanti (hal
yang terasa masuk akal, terlebih Johnny Sitohang sendiri dalam
pertemuan-pertemuan dengan masyarakat saat kunker sering menyinggung soal
keinginannya ‘dua periode’, meski lebih sering disampaikan secara guyon).
Menurut
penelusuran wartawan dan juga pendapat sejumlah warga, program “Bekerja untuk
rakyat” yang diterjemahkan dengan kunjungan kerja ke desa-desa secara rutin itu
belumlah bisa dikatakan menuai hasil yang maksimal. Lagi pula, sebenarnya permasalahan di desa
tidaklah sesederhana seperti yang didalami tim kunker: gotong royong
membersihkan desa, mengecat rumah ibadah, membantu memanen, pemeriksaan
kesehatan dan semacamnya. Hal-hal pokok
seperti masih kurangnya ‘skill’, minimnya penguasaan teknologi informasi,
kurangnya modal, minimnya akses ke pasar, masih belum memadainya infrastruktur
jalan raya serta kurang berfungsinya lembaga-lembaga formal, yang semuanya
merupakan kendala dalam mendongkrak pertumbuhan desa-desa secara umum, hal-hal
seperti itulah yang seharusnya mendapat perhatian yang mendalam sehingga tidak
terkesan menyentuh kulit-kulitnya saja.
Tanggal 1
Oktober mendatang, Kabupaten Dairi akan genap berusia 64 tahun. Menurut catatan wartawan, pada momen hari
jadi ini perlu ditegaskan lagi apa (lagi) yang hendak dibuat untuk menjadi
kebanggaan Kabupaten Dairi untuk mengejar ketertinggalannya? Sebab, diakui atau
tidak, Kabupaten Dairi secara umum masih dianggap tertinggal dibanding
kabupaten-kabupaten lain yang sudah lebih maju di Sumatera Utara.
Di bidang
kebersihan dan pengembangan kota, Sidikalang sebagai wajah Kabupaten Dairi
terbilang belum banyak beranjak maju. Malah penerima penghargaan Kalpataru
tahun 2010 kategori penyelamat lingkungan Hasoloan Manik dari Kabupaten Dairi
‘menantang’ Pemkab untuk lebih serius menata kota Sidikalang sehingga bisa
bersaing meraih Adipura. Satu hal yang
patut dibanggakan adalah sebagian besar jalan nasional yang melewati kota
Sidikalang sudah diperbaiki pada 2010 lalu sehingga kota terlihat rapi
(dikerjakan dengan dana APBN dan APBNP TA 2010). Di bidang investasi, terbilang masih
sepi. Bidang pariwisata, pengelolaan
Taman Wisata Iman (TWI) Sitinjo, obyek wisata rohani yang telah menjadi ikon
Kabupaten Dairi, terkendala dana yang makin minim. Sementara itu upaya pengembangan pariwisata
pantai Silalahi juga jalan di tempat ketika dana begitu minim. Bidang pertanian, petani masih mengeluhkan
akses ke pasar dan tidak adanya jaminan harga.
Infrastuktur yang dibangun dengan biaya besar juga masih banyak yang
mubazir atau tidak berfungsi seperti terminal sitinjo, ‘cold storage’ (gudang
pendingin), terminal agribisnis, balai benih ikan. Tak salah rasanya kalau
dikatakan ‘PR’ dan tantangan Pemkab Dairi masih menumpuk.
Dimuat di Harian SIB, Juni 2011.
Komentar
Posting Komentar