PERANTAU ASAL MUARA TAPUT KAGET LIHAT JALAN KE KAMPUNGNYA RUSAK PARAH
·
PADAHAL
MASA BUPATI RE NAINGGOLAN, JALAN SILANGIT-MUARA MULUS
Sidikalang (SIB)
Jalan dari
Silangit hingga ke Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara saat ini kondisinya
rusak. Kerusakan paling parah dirasakan
dari kawasan Panatapan hingga ke Muara yang jalannya penuh lubang dengan
kedalaman bervariasi. Kenderaan tidak
bisa melaju dengan kecepatan rata-rata akibat parahnya jalan.
Hal tersebut
dikatakan Ir Impol Siregar, perantau asal Muara yang sudah belasan tahun tinggal
di Sidikalang, kepada wartawan, Selasa (14/5) di kantornya di kawasan Bandar
Selamat Sidikalang. Impol mengaku pulang
ke Muara akhir pekan lalu dan kaget melihat kondisi jalan yang kini rusak
parah.
“Kaget saya
melihat kondisi jalan rusak parah begitu.
Karena parahnya jalan, jarak 13 kilometer harus ditempuh hampir satu
jam. Bayangkan,” ujar Siregar dan menambahkan, mobilnya mengalami kerusakan dan
harus masuk bengkel setelah kembali ke Sidikalang, akibat kondisi jalan rusak
itu.
Padahal,
lanjutnya, pada masa pemerintahan Bupati RE Nainggolan jalan tersebut begitu
bagus, waktu tempuh dari Silangit ke Muara hanya sekitar 15 menit. “Kenapa jalan yang dulunya bagus, aspal
hotmix, kini kupak-kapik? Padahal Muara mempunyai daya jual wisata yang tinggi,
panoramanya indah sekali, tidak kalah dengan Parapat atau Tongging, buktinya
hotel berbintang sudah banyak dibangun di Muara. Tapi seberapa potensialnya pun Muara, tidak akan berhasil dijual untuk pariwisata kalau
infrastruktur jalannya rusak parah,” paparnya.
Menurut
Siregar, sewaktu kepemimpinan Bupati RE Nainggolan sebenarnya sudah dirintis
pembangunan jalan ringroad melewati Pulau Sumandang di Muara, namun entah
kenapa tidak dilanjutkan. Ia meminta
pihak Pemkab memberikan perhatian terhadap kondisi jalan menuju Muara itu. Porsi pembangunan harus dibagi secara merata. “Jangan sampai muncul kesan bahwa kondisi ini
merupakan imbas dari persaingan Pilkada Taput tempo hari. Itu tidak bagus karena bisa melahirkan ‘perlawanan’
masyarakat akibat ketidakpuasan, misalnya saja permintaan pindah ke kabupaten
lain sebagaimana kita lihat terjadi di daerah lain,” ujarnya. (B4)
DIMUAT DI HARIAN SINAR INDONESIA BARU (SIB), SABTU, 18 MEI
2013, HALAMAN 5.
Komentar
Posting Komentar